TOPIK TERPOPULER
Pelatih SSB Pikeyro, Pieter Rumaropen, saat mendampingi tim asuhannya berlaga pada ajang Danone Nation Cup 2017 di Stadion Pakansari, Cibinong.
ALVINO HANAFI/JUARA.NET
Pelatih SSB Pikeyro, Pieter Rumaropen, saat mendampingi tim asuhannya berlaga pada ajang Danone Nation Cup 2017 di Stadion Pakansari, Cibinong.

Pieter Rumaropen Sukses Ajarkan Fair Play Pada Anak Asuh

JUARA.net - Pieter Rumaropen, jika mendengar nama itu pasti teringat akan peristiwa pemukulan wasit saat pertandingan Persiwa Wamena vs Pelita Bandung Raya pada ISL musim 2013. Namun selain itu, Pieter Rumaropen juga memiliki sejumlah catatan mentereng dalam kariernya.

Pieter yang menghabiskan seluruh karier seniornya di Persiwa Wamena, sering mendapat panggilan tim nasional dari era Peter White hingga Benny Dollo walaupun hanya menjadi pemanis bangku cadangan.

Dia pun sukses menjadikan Persiwa Wamena menjadi salah satu tim yang sangat ditakuti di Liga Indonesia. Bersama tim Badai Pegunungan itu, Pieter pernah menjadi runner-up Liga Super Indonesia musim 2008-2009 sekaligus berhak mewakili Indonesia ke AFC Cup 2010.

“Saya akui saat itu (2013) saya salah. Saat itu saya lepas kontrol dan khilaf. Saya sempat dijatuhi hukuman seumur hidup namun saya lolos dalam masa percobaan dan akhirnya menjadi satu tahun. Semoga orang-orang tidak melihat saya dari sisi buruknya saja tapi juga melihat hal-hal yang baiknya,” ujar Pieter di stadion Pakansari, Cibinong saat acara Danone Nation Cup.

Pieter Rumaropen bersama SSB Pikeyro pada ajang Danone Nation Cup 2017 di Stadion Pakansari, Cibinong.
Pieter Rumaropen bersama SSB Pikeyro pada ajang Danone Nation Cup 2017 di Stadion Pakansari, Cibinong.
ALVINO HANAFI/JUARA.NET

Saat ini Pieter pun masih aktif sebagai pemain Persiwa Wamena yang sedang berlaga di Liga 2. Selain itu Pieter pun menjadi pelatih SSB Pikeyro, Wamena, yang berlaga di putaran final nasional Danone Nation Cup.

“Saat ini saya izin dulu pada klub saya untuk mendampingi anak-anak bertanding di DNC. Saya sudah memegang tim ini sejak tahun lalu dan sayapun sudah berlisensi C. Saya sudah mulai melatih sejak 2014 ketika menjalani masa hukuman. Daripada tidak ada kegiatan, saya melatih anak-anak kecil saja,” ujar pria yang juga mengantongi lisensi wasit itu.

Pieter pun bercerita kepada JUARA tentang awal kepelatihannya di SSB Pikeyro. Baginya melatih adalah sebuah kesenangan dan tanda baktinya bagi tempat di mana ia hidup, Wamena.

“Awalnya saya diminta melatih SSB Pikeyro ini. Saya tertarik karena SSB ini mempunya misi yang baik yakni merangkul anak-anak jalanan serta putus sekolah. Saya tertarik karena saya ingin menyelamatkan anak-anak Wamena dari kenakalan remaja. Daripada mereka isap rokok, pakai narkoba dll, lebih baik saya selamatkan dengan sepak bola” ujar PNS Kabupaten Jayawijaya itu.

SSB Pikeyro pun sukses di bawah arahan Pieter. Pikeyro menjadi perwakilan Papua ke fase nasional DNC.

Di DNC, Pikeyro memang tidak juara, meski begitu Pikeyro tidak pulang ke Wamena dengan tangan hampa. Pikeyro pulang dengan meraih gelar tim fair play di ajang tersebut karena mengoleksi kartu hijau terbanyak.

Prestasi Pikeyro ini jelas suatu pembuktian dari Pieter. Capaian tersebut mengaskan bahwa dia sudah berubah dan berhasil mengajarkan anak-anaknya bermain fair play dan sportif.

“Meski saya punya pengalaman kelam dahulu, tapi yang sudah berlalu biarlah berlalu sekarang saya sudah membuka lembaran baru. Saya sangat tegas pada anak-anak saya supaya hormat serta menghargai wasit. Hasilnya pun bisa kita lihat, Pikeyro meraih gelar tim fair play di DNC tahun ini,” ujar Pieter.

Wamena bagi Pieter merupakan tempat yang sangat berjasa dalam kariernya. Pieter pun sempat menolak beberapa klub yang menawar dirinya untuk pindah.

“Saya pernah ditawari Arema dan Semen Padang. Saya menolak itu sebab Wamena sangat menghargai saya,” ujar Pieter.

Walhasil hingga kini, Pieter hanya membela satu klub saja yakni Persiwa Wamena. Setelah DNC selesai, Pieter pun berencana langsung bergabung dengan Persiwa yang sedang berlaga pada Grup 8 Liga 2 di Sidoarjo.

TOPIK :

Komentar