TOPIK TERPOPULER
Mantan pemain Jerman dan pelatih Real Madrid, Bernd Schuster
DENIS DOYLE/GETTY IMAGES
Mantan pemain Jerman dan pelatih Real Madrid, Bernd Schuster

LEGENDA: Bernd Schuster, Malaikat Pirang Sang Pengkhianat

JUARA.net - Jika bicara tentang perpindahan pemain dari FC Barcelona ke Real Madrid, nama pertama yang terbesit di kepala pasti Luis Figo. Namun, jangan lupa bahwa ada pula nama Bernhard Schuster.

 

Bernhard Schuster menjadi bagian tak terpisahkan dari Barcelona pada era 1980–an. Delapan tahun lamanya ia membela Blaugrana.

Musim terbaik Schuster terjadi pada 1984-1985. Dengan kontribusi 11 gol dari 32 penampilan, gelandang asal Jerman itu mengantarkan Barcelona ke tangga juara La Liga.

Copa Del Rey edisi 1987-1988 menjadi gelar terakhir yang dipersembahkan Schuster untuk Barcelona. Malaikat Berambut Pirang, demikian ia dijuluki, meninggalkan Catalan dengan total 8 titel.

Dari pahlawan, Schuster tiba-tiba menjelma jadi musuh nomor satu fans Barcelona. Cap pengkhianat melekat pada dirinya lantaran memutuskan menyeberang ke Real Madrid pad musim panas 1988.

Tak heran kalau beragam kata hinaan mengarah ke Schuster ketika dirinya datang ke markas Barca di Camp Nou bersama Madrid untuk kali pertama, 1 April 1989. Duel berakhir dengan skor kacamata.

Cemoohan dari penggemar Barcelona dibalas Schuster dengan prestasi. Dua musim berturut-turut ia membawa Madrid berjaya di La Liga, yakni pada 1988–1989 dan 1989–1990.

"Di sini, saya menemukan ketenangan. Saya senang bermain setiap pekan untuk meraih kemenangan demi kemenangan," kata Schuster.

Dua gelar lainnya yang diberikan Schuster untuk El Real adalah Copa del Rey dan Piala Super Spanyol.

Perjalanan Schuster bersama Los Blancos berakhir pada 1990. Ia menutup catatan kariernya bersama raksasa ibu kota Spanyol dengan mengukir 86 penampilan dan 15 gol.

Enam tahun berselang, setelah sempat berseragam Atletico Madrid, Bayern Leverkusen, dan UNAM Pumas, pria kelahiran Augsburg itu memutuskan untuk menyudahi kiprahnya sebagai pesepak bola.

Cinta terhadap Si Putih membawa Schuster kembali ke Santiago Bernabeu. Menjelang musim 2007-2008 bergulir, ia mengatakan 'iya' ketika ditawari menjadi pelatih Madrid.

Musim perdana Schuster di kursi kemudi El Real berjalan cukup mulus. Ia mengubah wajah Madrid dari tim bertahan menjadi lebih menyerang.

Madrid jadi tim tersubur di La Liga dengan koleksi 84 gol. Alhasil, gelar juara La Liga pun jatuh ke tangan Iker Casillas dkk.

"Saya masih menyaksikan sepak bola, tetapi tidak mengikuti Real Madrid."

Bernhard Schuster

Namun, prestasi di lapangan tak berjalan beriringan dengan di balik layar. Kendati diberkahi kesuksesan, Schuster disorot tajam karena kerap terlibat konfrontasi dengan media.

Tidak jarang sang pelatih menolak menjawab pertanyaan, mengeluarkan komentar kontroversial, dan pernyataan berbau sarkastik. Belum lagi aksi walk-out saat konferensi pers.

Tekanan dari media plus inkonsistensi penampilan El Real membuat Schuster menyerah. Ia mengundurkan diri pada pertengahan musim 2008-2009.

Schuster meninggalkan Madrid dalam keadaan tertinggal 9 poin dari pemuncak klasemen, FC Barcelona.

"Sulit untuk melatih Real Madrid karena semua begitu rumit. Anda tidak akan pernah bisa santai, baik itu ketika menghadapi pemain atau media," kata pemilik gelar Piala Eropa 1980 bersama Jerman Barat itu.

"Saya masih menyaksikan sepak bola, tetapi tidak mengikuti Real Madrid. Saya sudah cukup kehilangan banyak rambut selama melatih di sana," ujar Schuster seloroh.

 

  • Penulis: Ade Jayadireja
  • Editor: Estu Santoso
  • Sumber: Berbagai sumber
TOPIK :

Komentar