TOPIK TERPOPULER
Septian David Maulana (tanpa rompi), eks timnas U19 yang masuk timnas senior.
GONANG SUSATYO/JUARA.NET
Septian David Maulana (tanpa rompi), eks timnas U19 yang masuk timnas senior.

Septian David Maulana, Sempat 'Diusir' Sang Ayah ke Kalimantan

JUARA.net - Pesepak bola kelahiran Semarang 20 tahun silam, Septian David Maulana, tengah mencapai level karier yang gemilang. Di saat pengalaman kompetisi masih minim, dia menjadi salah satu pemain muda yang dipercaya ambil bagian dalam pelatnas menuju Piala AFF 2016.

Penulis: Kukuh Wahyudi

Pada masa-masa awal mengenal sepak bola, David kecil kerap kena marah sang ibu. Pasalnya, ia kadang pulang terlambat karena menyempatkan bermain sepak bola.

Walhasil, ibunya yang sudah menyiapkan makan siang di rumah menjadi khawatir tak tahu kabar pasti anaknya itu. Lambat laun, orang tuanya merasa perlu mengarahkan buah hatinya ke hal-hal yang memang diminatinya.

“Akhirnya saat saya kelas 4 SD, orang tua memasukkan saya ke SSB Bhaladika di daerah Semarang,” ujar David.

Saat itu, kegirangan David membuncah. Terlebih lagi saat bapaknya memberikan bola beserta kostum tim Arsenal. Setelah dua benda itu ada di tangannya, ia pun tak ragu lagi memimpikan bisa menjadi pesepak bola profesional.

Hanya, kendati berasal dari Semarang, ia tidak begitu berhasrat bisa berseragam biru kebesaran PSIS Semarang.

David justru ingin bergabung ke klub yang sama-sama berseragam biru, tapi klub itu tidak di Semarang, melainkan di Bandung, yakni Persib.

“Saya pun bingung kenapa harus suka dengan Persib. Yang saya ingat, saat itu senang melihat permainan cepat Aliyudin,” tuturnya.

Saat ini, posisinya pun hampir serupa dengan Aliyudin, idolanya itu. David berposisi sebagai striker yang lebih diposkan di sisi sayap.

Pesan Bapak

Saat berdiskusi dengan ayahnya soal karier pesepak bola profesional, Septian sempat dianjurkan hijrah ke Kalimantan.

“Saya tak tahu kenapa harus ke Kalimantan. Katanya, dulu di sana masih sedikit pemain bola sehingga bisa dapat jam terbang, tetapi akhirnya sekarang tercapai juga. Toh sekarang saya main di Mitra Kukar,” tutur David sambil tertawa.

Baginya, ayah dan ibu merupakan pengawalnya dalam berkarier.

“Dulu saat masih di SSB, saya sering diantar mereka. Biasanya Bapak yang sering mengantar dan Ibu menjemput saya. Tapi, jika Bapak tak bisa karena bekerja, Ibu yang lantas mengantar. Bila begitu, Bapak yang ganti menjemput,” kata David menceritakan masa kecilnya.

Timnas U-19

Bakat David menggiringnya ke PPLP Jateng. Lewat PPLP itulah bakatnya tercium oleh pelatih timnas U-19, Indra Sjafri, yang sedang mencari pemain untuk Piala AFF 2013. Pelatih asal Sumatera Barat itu memboyongnya untuk mengikuti seleksi.

Namun, saat itu ia tercoret bersama dua rekan lainnya dari Jateng. Namun, seperti sudah rezeki, akhirnya Septian dipanggil lagi oleh Indra di momen yang berbeda dan masuk pelatnas.

Di timnas U-19, bakatnya tetap menarik minat klub-klub meski dirinya lebih banyak sebagai pelapis. Kini akhirnya David berseragam Mitra Kukar, klub profesional pertama yang ia bela.

“Sejak kecil ia memang sudah menunjukkan semangat di sepak bola. Dia menjadi pemain yang memang patut dicontoh. Kini gerakannya semakin matang,” tutur Awan Setho, rekan setim Septian di Piala Pelajar U-15 dan timnas U-19.

  • Penulis: Tabloid Bola
  • Editor: Firzie A. Idris
  • Sumber: Tabloid BOLA
TOPIK :

Komentar