TOPIK TERPOPULER
Masyarakat yang tak kebagian tiket kategori III laga Indonesia Vs Vietnam melakukan unjuk rasa di depan Gedung Kemenpora, Jakarta, Jumat (2/12/2016) sore.
SEGAF ABDULLAH/JUARA.NET
Masyarakat yang tak kebagian tiket kategori III laga Indonesia Vs Vietnam melakukan unjuk rasa di depan Gedung Kemenpora, Jakarta, Jumat (2/12/2016) sore.

Tak Kebagian Tiket Indonesia Vs Vietnam, Ada yang Unjuk Rasa di Kemenpora

JAKARTA, JUARA.net – Terkait keluhan dari sebagian masyarakat mengenai sistem penjualan tiket semifinal Piala AFF 2016, Kemenpora menyampaikan tujuh pernyataan sikap. Hal itu terkait unjuk rasa pembeli yang tak kebagian tiket laga Indonesia kontra Vietnam.

Timnas Indonesia akan menjamu Vietnam di Stadion Pakansari, Cibinong, Kab Bogor pada Sabtu (3/12/2016). Ini adalah laga leg pertama fase empat besar turnamen dua tahunan tersebut.

Pola pendistribusian tiket offline yang dikhususkan untuk kategori III rupanya masih menyimpan masalah.

Penjualan tiket yang dilaksanakan di sekitar Gelora Bung Karno (GBK), Jumat (2/12/2016), menyisakan kekecewaan banyak masyarakat. Akhirnya, mereka menggelar unjuk rasa di depan Gedung Kemenpora.

Tiket kategori III yang dijual sebanyak 10.000 ribu lembar secara manual di GBK, ludes dalam waktu dua jam sejak loket dibuka pukul 08.00 WIB.

Menurut Yudi, salah satu pemegang tiket yang juga ikut mengantre di GBK, mengatakan bahwa satu calo berhasil ditangkap. Lalu, calo digiring hingga ke depan Kantor Kemenpora.

Bahkan, JUARA sempat ditawari tiket oleh salah satu calo yang ada di dalam antrean penukaran tiket di fX Sudirman. Dia menjual tiket kategori III yang dibanderol resmi Rp 100 ribu menjadi Rp 300 ribu.

Untuk itu, Kemenpora mempertanyakan mengapa PSSI seperti tidak belajar dari kejadian serupa yang terjadi pada tahun-tahun sebelumnya.

Berikut tujuh pernyataan sikap Kemenpora kepada PSSI terkait sistem penjualan tiket timnas:

  1. Mendesak PSSI untuk memperkecil peluang berkembangnya transaksi penjualan tiket yang sebagian di antaranya jatuh pada tangan calo-calo. Di banyak sektor jasa layanan masyarakat, hal tersebut bisa diatasi, dan demikian halnya yang harus dilakukan oleh PSSI.
  2. Mendesak PSSI untuk menindak tegas oknum-oknum PSSI ataupun pihak-pihak tertentu yang diduga memungkinkan bergerak leluasanya sistem percaloan tiket.
  3. Mendesak PSSI untuk tidak membiarkan buruknya pola penjualan tiket seperti itu, meskipun harus berkoordinasi dengan pihak lain baik internasional maupun mitra lokal.
  4. Mendesak PSSI untuk memastikan bahwa jumlah tiket yang dijual/ disediakan adalah sesuai dengan kapasitas stadion tempat akan berlangsungnya pertandingan.
  5. Mendesak PSSI untuk meminta pertanggunganjawaban pihak Kiostik, yang secara teknis bertanggung jawab dalam mekanisme penjualan tiket tersebut di Indonesia.
  6. Menyadari bahwa sistem penjualannya secara online, PSSI harus mampu memastikan, bahwa kapasitas bandwidth yang tersedia pada saat hari-hari penjualan harus dilipatkan secara memadai dengan tujuan untuk menjamin konektivitas internet berfungsi secara optimal.
  7. Mengingat bahwa pertandingan semifinal Piala AFF pada 3 Desember 2016 merupakan tonggak awal pertandingan internasional pertama sistem home bagi pengurus PSSI yang baru, maka Pimpinan PSSI dituntut untuk menunjukkan citra positif. Baik bagi aspek tata kelola pertandingan, keamanan, ticketing, perlindungan bagi tamu dari Vietnam dan AFF, dalam konteks reformasi tata kelola sepak bola Indonesia yang lebih baik dan konstruktif.

  • Penulis: Segaf Abdullah
  • Editor: Estu Santoso
  • Sumber: -
TOPIK :

Komentar