TOPIK TERPOPULER
Ekspresi seorang suporter Merah Putih pada laga Indonesia vs Thailand di laga pembuka Grup A Piala AFF 2016, di Philippine Stadium, Bocaue, Sabtu (19/11/2016).
KUKUH WAHYUDI/BOLA/JUARA.NET
Ekspresi seorang suporter Merah Putih pada laga Indonesia vs Thailand di laga pembuka Grup A Piala AFF 2016, di Philippine Stadium, Bocaue, Sabtu (19/11/2016).
KOLOM

Belajar Kemajemukan dari Agama Sepak Bola

BANDUNG, JUARA.net - Menyamakan sepak bola dengan agama bisa saja dinilai sebagai sesuatu yang berlebihan. Namun di sisi lain, sepak bola sebagai sebuah “agama” bukanlah semacam ide yang terlalu asing.

Memang, agama di sini kita mesti tempatkan dalam sebuah tanda kutip karena definisinya tidak persis seperti agama-agama yang kita kenal.

“Agama sepak bola” mungkin punya kitab suci (pegangan aturan permainan, buku sejarah klub, dan sebagainya), sosok Tuhan (pada pemain yang di-“dewa”-kan), dan juga jemaat (penggemar), tapi nilai kesakralannya tentu berbeda dengan agama yang telah mapan.

Hanya saja, pada kasus tertentu, kesakralan ini tidak bisa kita anggap sepele.

Misalnya, coba tanyakan pada orang-orang Napoli yang menyaksikan dengan mata kepala sendiri, bagaimana sosok Diego Maradona di mata mereka pada masa jayanya sekitar 30 tahun silam.

Dalam artikel berjudul Even 15 years later, Maradona's mythic magic lives on: In Naples, St. Diego still rules yang ditulis oleh Elisabetta Povoleddo, terdapat pernyataan dari Gennaro Montuori, penggemar berat klub Napoli. 

Ia mengatakan, “Pada masa itu ada tiga juta warga Napoli, dan dua juta di antaranya mempunyai foto Maradona. Kami menyebutnya il nostro dio atau juga Mara-dio (dio = Tuhan dalam bahasa Italia). Bagi kami ia adalah perwujudan Kristus di dunia. Semacam Paus. Beberapa dari kami menyebutnya juga St. Diego”

Jika hal tersebut dianggap ekstrim, tentu belum sebanding dengan apa yang dilakukan oleh sekumpulan orang di Rosario, Argentina, pada tahun 1998.

Mereka mendirikan agama bernama Iglesia Maradoniana atau Gereja Maradona.

Dalam artikel berjudul He Was Sent from Above yang ditulis oleh Jonathan Franklin, anggota Iglesia Maradoniana berjumlah 120.000 orang dan mereka mempunyai cara berdoa, pembaptisan, hingga “sepuluh perintah”-nya sendiri.

Inti ajarannya adalah mencintai Maradona dan segala keindahan sepak bola yang ia mainkan.

TOPIK :

Komentar