TOPIK TERPOPULER
Bek Jerman, Shkodran Mustafi, mengangkat trofi Piala Konfederasi setelah mengalahkan Cile dalam laga final di Stadion Saint Petersburg, Rusia, pada 2 Juli 2017.
DEAN MOUHTAROPOULOS/GETTY IMAGES
Bek Jerman, Shkodran Mustafi, mengangkat trofi Piala Konfederasi setelah mengalahkan Cile dalam laga final di Stadion Saint Petersburg, Rusia, pada 2 Juli 2017.
KOLOM

Deutschland Ueber Alles dan 4 Tim Penakluk Milik Jerman

JUARA.net - Publik Jerman identik dengan semboyan Deutschland ueber alles yang menggambarkan superioritas negara mereka atas yang lain. Slogan itu pun terbukti berlaku, setidaknya untuk dua kejuaraan sepak bola internasional musim panas ini.

Kalimat 'Deutschland, Deutschland ueber alles. Ueber alles in der Welt' langsung terpampang pada mukadimah stanza pertama di lagu kebangsaan Jerman, Das Lied der Deutschen, dalam versi lama.

Namun, syair gubahan Hoffmann von Fallersleben itu sedikit dimodifikasi. Pasca-Perang Dunia II, stanza pertama dan kedua ditiadakan karena kepentingan politik.

Ungkapan 'Deutschland ueber alles, ueber alles in der Welt' (Jerman di atas segalanya, di atas segalanya di dunia) sangat bermuatan sosialis hingga Jerman diinterpretasikan sebagai bangsa terunggul di dunia seperti ajaran Nazisme.

Sejak momen penyatuan Jerman Barat dan Timur pada 1991, lirik lagu kebangsaan pun dikonfirmasikan hanya memakai stanza ketiga yang diawali kalimat 'Einigkeit und Recht und Freiheit'.

Maknanya adalah 'persatuan dan keadilan dan kebebasan' yang kini menjadi semboyan mereka.

Pemain timnas Jerman merayakan kesuksesan menjuarai Piala Konfederasi 2017 seusai menekuk Cile dalam laga final di Krestovsky Stadium, Saint Petersburg, Rusia, 2 Juli 2017.
Pemain timnas Jerman merayakan kesuksesan menjuarai Piala Konfederasi 2017 seusai menekuk Cile dalam laga final di Krestovsky Stadium, Saint Petersburg, Rusia, 2 Juli 2017.
FRANCK FIFE / AFP

Meski terjadi perubahan, filosofi 'ueber alles' sepertinya masih tertanam - dalam arti positif - termasuk di dunia sepak bola.

Timnas Jerman bisa disebut mencuat sebagai percontohan terbaik di dunia saat ini dalam pengelolaan sumber daya pemain di segala level.

Hanya dalam kurun 48 jam, Jerman mewakilkan tim nasional mereka sebagai juara turnamen internasional pada dua strata berbeda.

Setelah gol tunggal Mitchell Weiser membawa Jerman menekuk Spanyol di final Piala Eropa U-21 (30/6/2017), torehan emas Lars Stindl memastikan Die Mannschaft menjuarai Piala Konfederasi 2017 dengan megalahkan Cile (2/7/2017).

"Saya sangat bangga dengan tim ini. Jerman tetap merupakan tim terbaik di dunia".

Joachim Loew, pelatih timnas Jerman

Level sepasang turnamen itu memang bukan kelas satu, tetapi sangat diapresiasi publik Jerman, bahkan secara global.

Hal itu karena timnas Jerman tak membawa materi terbaik untuk bertempur di kedua medan kompetisi tersebut.

Khusus di Piala Konfederasi, pelatih Joachim Loew hanya mengangkut tiga alumni tim mereka yang memenangi Piala Dunia 2014: Julian Draxler, Shkodran Mustafi, dan Matthias Ginter.

Angka rataan umur starter cuma 24 tahun dan 244 hari di final lawan Cile menegaskan Jerman sangat siap menghadapi masa depan.

Dengan mengistirahatkan 80 atau 90-an persen pemain lapis pertama Die Mannschaft (misalnya Manuel Neuer, Mats Hummels, atau Thomas Mueller), Joachim Loew kerap disebut tampil dengan 'tim B' atau 'tim kelas dua' di Rusia 2017.

Mungkin tidak sepenuhnya salah, tetapi hal itu sah saja kalau disebut meremehkan. Sesungguhnya, Loew bukan membawa pemain kelas dua, melainkan justru mengangkut para calon bintang.

Merekalah kelak yang bakal mengambil tongkat estafet dari Mueller dkk di masa depan.

Lagipula, label kelas dua kurang cocok lantaran roster Jerman di Piala Konfederasi 2017 dipadati pemain sarat pengalaman walau berusia muda.

  • Editor : Beri Bagja
  • Sumber: Bundesliga, Deutsche Welle, Sportschau
TOPIK :

Komentar