TOPIK TERPOPULER
Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo, pemain nomor satu dunia dan unggulan pertama Indonesia Terbuka 2017 yang gugur di babak pertama.
FERNANDO RANDY/BOLA
Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo, pemain nomor satu dunia dan unggulan pertama Indonesia Terbuka 2017 yang gugur di babak pertama.
KOLOM

Hari Kemenangan Bersama

JUARA.net - Lebaran selalu menjadi momen yang istimewa. Bahkan di Indonesia itu termasuk bagi mereka yang bukan beragama Islam sekalipun. Di negeri indah ini, selalu saja terdapat cerita di mana Lebaran seolah menjadi hari raya bersama, Hari Kemenangan bersama.

Tentu saja bagi umat Islam lebih spesial karena mereka merasa benar-benar sudah menang setelah sebulan penuh menahan semua hawa nafsu di bulan Ramadan. Idul Fitri adalah balasan setimpalnya.

Bila kita ibaratkan puasa- Lebaran dengan olahraga, maka sepertinya kita, bangsa Indonesia, saat ini masih melakukan puasa teramat panjang. "Ramadan" masih terus saja berlangsung dan "Lebaran"-nya itu sendiri seperti belum terlihat kapan akan datang.

Memang, sudah ada prestasiprestasi hebat yang datang, misalnya kita akhirnya tetap kembali mampu menjaga tradisi emas Olimpiade. Lalu, melesatnya prestasi Marcus Gideon/Kevin Sanjaya atau ganda-ganda putri kita yang mulai kelihatan potensi mereka.

Memang bulu tangkis, walau belum seperti dulu, masih menjadi andalan. Belum terjadi pemerataan prestasi di banyak cabang olahraga. Padahal, yang kita inginkan adalah gelar-gelar fantastis tidak hanya dari bulu tangkis.

Masalah klasik ini sudah samasama kita ketahui, termasuk pemerintah tentunya.

Saya mengibaratkan prestasiprestasi individual itu sebagai momen "buka puasa". Siapa pun yang berpuasa pasti sangat senang di saat berbuka. Begitu juga dengan kita. Siapa pun pasti senang saat melihat ada atlet kita berprestasi di tingkat internasional, walaupun jumlahnya masih tergolong hitungan jari.

Kita tetap wajib mensyukurinya, seperti halnya mereka yang berbuka puasa selalu bersyukur dengan segala keberkahan rezeki yang mereka dapatkan hari itu.

***

Di tengah kondisi seperti ini, jalan terbaik adalah tetap berusaha dan bekerja keras. Sama halnya dengan orang yang berpuasa.

Setelah berbuka, mereka mencoba mencari pahala lebih banyak dengan salat tarawih, tadarus Alquran, dan siap berpuasa lagi. Kita juga mesti begitu.

Kerja keras itu mesti dilakukan tiada henti walaupun, katakanlah, itu dilakukan oleh mereka yang sudah berprestasi sekalipun. Kenapa? Karena itu akan jadi cambuk bagi mereka yang belum berprestasi.

Bagi kita, definisi prestasi merata itu sederhana. Tidak melulu seperti China atau Amerika Serikat yang memang negeri adikuasa olahraga saat ini.

Saya tertarik ketika Ketua Komite Olimpiade Indonesia (KOI) sekaligus Ketua Inasgoc (panitia penyelenggara Asian Games 2018), Erick Thohir, menyinggung soal grafik prestasi Inggris Raya di Olimpiade sebagai contoh sukses yang bisa ditiru Indonesia.

 Saat London dipastikan jadi tuan rumah Olimpiade 2012, mereka menempa diri dengan target yang sangat realistis, yakni membaik di Olimpiade Beijing 2008, mendulang prestasi saat jadi tuan rumah, dan memelihara prestasi tersebut pada 2016 dan seterusnya.

Dan itulah yang terjadi. Di Athena, Yunani, tahun 2004 mereka ada di peringkat 10 dengan hanya 9 emas. Di Beijing mereka dapat 19 emas dan peringkat naik ke posisi 4. Di London, Britania berpesta karena mendapat 29 emas dan naik ke peringkat 3.

Setelah itu, walau di Rio de Janeiro secara medali emas mereka menurun, jadi 27, posisi mereka naik ke urutan 2. GBR sudah mampu mengalahkan China walau belum bisa menggeser Amerika.

Indonesia mesti seperti itu. Kita pilih sendiri bagaimana caranya. SEA Games menjadi rutin jadi juara umum lagi. Peringkat di Asian Games bagus, bukan hanya saat jadi tuan rumah. Sepak bola langganan juara.

Ah, kalau itu sudah terwujud rasanya hidup ini indah. Itulah Hari Kemenangan kita bersama. Selamat Idul Fitri, pembaca!

  • Penulis : Arief Kurniawan
  • Editor : Jalu Wisnu Wirajati
  • Sumber: Tabloid BOLA No.2.779
TOPIK :

Komentar