TOPIK TERPOPULER
Gelandang Persib Bandung, Michael Essien (kanan), mengikuti latihan perdana Persib Bandung di Lapangan Lodaya, Bandun pada Kamis (30/3/2017).
BUDI KRESNADI/JUARA.NET
Gelandang Persib Bandung, Michael Essien (kanan), mengikuti latihan perdana Persib Bandung di Lapangan Lodaya, Bandun pada Kamis (30/3/2017).
KOLOM

Marquee Player, Bisa Untung Bisa Buntung

JUARA.net - Demam marquee player sedang melanda sepak bola tanah air. Namun, perlu kebijakan dan analisis mendetail dari sebuah klub yang ingin memakai jasa pemain mahal itu. 

Jagad sepak bola Tanah Air sedang dilanda istilah marquee player. Keberhasilan Persib Bandung menggaet Michael Essien pada pertengahan Maret 2017 membuat sebutan marquee player semakin populer, bahkan sampai merevisi draft regulasi Liga 1.

Ya, sebelum Essien resmi bergabung dengan Persib, regulasi Liga 1 soal pemain asing adalah 2+1. Artinya, setiap klub berhak membeli tiga pemain asing dengan rincian dua non-Asia dan satu pemain Asia.

Namun setelah pemain asal Ghana tersebut diperkenalkan, aturan direvisi menjadi 2+1+1 demi pemain berstatus marquee player. Sebab, arti dari revisi tersebut adalah setiap klub boleh mengontrak dua pemain asing non-Asia plus satu pemain Asia ditambah satu marquee player.

Ketua Umum PSSI Letnan Jenderal TNI Edy Rahmayadi yang mengungkapkan hal tersebut dalam pertemuan dengan perwakilan 18 klub peserta Liga 1 di Markas Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Makostrad), Jakarta, Kamis (16/3/2017).

Menurut Edy, setiap klub bisa memiliki empat pemain asing kalau mampu mendatangkan marquee player. Apabila tak mampu, maka setiap klub hanya boleh mengontrak maksimal tiga pemain asing dengan komposisi dua non-Asia plus satu pemain Asia.

 

Apa itu marquee player?

Berdasarkan literatur, marquee player adalah seorang atlet yang dianggap sangat populer, terampil atau luar biasa dalam olahraga profesional. Meskipun demikian, beberapa liga memiliki definisi dan aturan yang berbeda soal marquee player, termasuk mengenai batasan gaji.

Penerapan marquee player mulai populer ketika David Beckham pindah dari Real Madrid ke LA Galaxy pada 2007. Kedatangan bintang asal Inggris yang namanya mulai tenar sebagai winger kanan Manchester United tersebut membuat Major League Soccer (MLS) terkenal. Sepak bola pun makin populer di Amerika Serikat.

Setelah itu, India Super League (ISL) pun melakukan terobosan. Untuk membuat sepak bola populer di negaranya, sejumlah delapan klub yang berpartisipasi dalam ISL diizinkan mengontrak marquee player.

Luis Garcia menjadi rekrutan pertama. Mantan pemain Liverpool dan bintang timnas Spanyol itu dikontrak Atletico de Kolkata pada Juli 2014. Kemudian, datang Alessandro del Piero (Delhi Dynamos), Robert Pires (Goa), Fredrik Ljungberg (Mumbai City), David Trezeguet (Pune City), Roberto Carlos (Delhi Dynamos), Nicolas Anelka (Mumbai City), Adrian Mutu (Pune City) dan beberapa pemain lain, termasuk Diego Forlan (Mumbai City).

Nah, untuk di Liga 1 yang rencananya mulai bergulir 15 April 2017 ini, pemain yang masuk kategori marquee player adalah yang pernah bermain untuk tim nasional negaranya dalam tiga edisi terakhir Piala Dunia (Piala Dunia 2006, 2010 dan 2014). Atau, pemain tersebut pernah bermain di liga top Eropa dalam kurun waktu delapan tahun terakhir.

Meskipun demikian, marquee player untuk Liga 1 ini memiliki batasan umur. Syarat yang ditetapkan oleh PSSI adalah, umur sang marquee player harus berusia maksimal 35 tahun.

Dengan demikian, para marquee player yang sudah berlabuh di klub Liga 1 memenuhi syarat tersebut. Persib memiliki dua merquee player dalam diri Essien serta Charlton Cole, kemudian di Madura United ada Peter Odemwingie, di Borneo FC ada Shane Smeltz, di PSM Makassar ada Wiljan Pluim dan Steven Paulle serta Sylvano Comvalius di Bali United.

TOPIK :

Komentar